Cerita Inpirasi

Kisah berawal dari seorang kaya raya yang belum berkeluarga dan senang sekali menjelajahi dunia. Baginya jalan-jalan adalah upaya mendapat keindahan Tuhan yang mungkin sulit didapatkan jika hanya diam di rumah saja. Suatu hari dia pergi ke daerah eksotik nan indah, hanya sedikit orang yang dapat pergi kesana. Saat tiba di tempat itu, dia benar-benar merasa beruntung menjadi salah satu dari segelintir orang yang dapat menikmati keindahan sebagai bukti keagungan Tuhan Yang Maha Esa itu. Udaranya dingin, hampir tidak ada polusi, dan begitu hening. Hampir tidak ada suara selain suara angin yang menusuk kulit. Sejauh mata memandang hanya pepohonan dan langit yang biru, hampir terasa sempurna baginya…

Namun saat dia tengah menikmati keindahan itu, seketika dia tersentak lalu beristighfar. Menetes air matanya tanpa dia sengaja. Diapun kaget dan terheran-heran, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa tiba-tiba air mata menetes dari kedua matanya. Saat itu, hatinya tiba-tiba terasa hampa. Suasana yang sepi malah membuatnya merasa terlalu kesepian. Semua berubah seketika. Lalu tiba-tiba dia teringat pada ibunya yang ada di kampung halamannya. Sepertinya dia rindu kepada ibu yang sangat disayanginya itu.

Dulu saat masih di bangku sekolah dia pernah mengecewakan ibunya. Saat beliau mengharap prestasinya, malah hilang begitu saja. Mulai dari kegagalan MENJADI PESERTA lomba, peringkat kelas menurun, hingga kejadian-kejadian mengecewakan yang lain. Yang paling dia ingat adalah moment beberapa tahun yang lalu saat malam hari. Waktu itu dia ingin sesuatu yang sebenarnya tidak begitu diperlukan. Ayah pun melarangnya dan dia berusaha untuk menerima keputusan sang ayah. Semua seolah berjalan sederhana. Dia mencoba untuk menahan keinginannya karena yang dia rasakan adalah dia ingin dianggap dewasa, dia ingin benar-benar menjadi dewasa, yakni dengan menahan keinginannya dan tidak lagi menjadi anak yang keinginannya selalu dituruti orang tuanya. Namun saat itu ibunya tampak tidak tega kepadanya karena keinginannya tidak mendapat izin dari ayahnya. Ibupun berupaya membujuk ayah agar mengizinkan dan memenuhi keinginan anaknya, hingga akhirnya ayahpun melontarkan alasan-alasannya, dan di sela-sela perkataannya itu, ada kata “…jangan dituruti terus anaknya itu…”

Seketika dia kaget mendengar perkataan ayahnya, karena dia tidak merasa merengek ataupun memaksa, dia sudah berusaha menahan keinginannya. Dengan serta merta dia marah kepada ibunya, karena dia merasa ibunya adalah penyebab ayahnya mengatakan hal itu. Dia merasa upayanya saat menahan keinginannya itu sia-sia, sehingga ayah seolah masih menganggapnya anak kecil dengan perkataannya itu. Saat itu dia hendak pergi les dengan mengendarai sepeda motor. Setelah berupaya membujuk ayahnya, ibu menghampiri dia dan berkata “gak apa-apa ya nak, lain kali saja” sambil tersenyum kepadanya. Namun dia memalingkan wajahnya tanpa menjawab apa-apa. Bahkan saat ibu membukakan pintu untuknya, dia seakan hendak menabrak ibunya sehingga membuat ibu kaget dan menyingkir sambil tertunduk. Dia pun pergi dengan amarah. Saat di perjalanan, dia terus teringat wajah ibunya. Dia menangis dan menyesal telah melakukan hal itu kepada ibunya. Dia merasa sangat berdosa. Dan sampai sekarang, kejadian itu selalu terngiang di benaknya, apalagi saat tiap kali ibunya sakit. Dia selalu takut ditinggal ibunya, karena baginya sungguh perbuatan itu tidak dapat dimaafkan. Dan mungkin rasa itu akan terus dibawanya hingga ke liang kubur.

Sesaat setelah mengingat kejadian itu, dia langsung mengemas barangnya dan pulang, dia ingin cepat-cepat bertemu ibunya dan memeluknya erat, dia ingin mencium kakinya, dia ingin melakukan semuanya untuk ibunya. Sebenarnya hal itu sudah dilakukannya sejak dia menyesali kejadian itu, namun ada yang beda kali ini. Saat sampai di rumahnya, dia tidak menjumpai ibunya. Sesaat setelah sampai di rumah, dia mendapat kabar dari saudaranya bahwa ibunya telah dibawa ke rumah sakit karena penyakitnya kambuh. Dia segera pergi ke rumah sakit sambil menangis. Ternyata air mata yang tiba-tiba menetes itu adalah pertanda bahwa ibunya sedang sakit. Saat tiba di rumah sakit, dia menjumpai ibunya yang sedang diinfus, terbaring lemah. Sampai akhirnya dokter menyatakan bahwa ibunya menderita stroke, karena terlalu stres. Ternyata selama ini ibunya selalu memendam masalah yang beliau hadapi, memendam sikap kasar anak-anak yang sangat disayanginya, memendam semuanya. Sekarang dia hanya bisa berharap datang Pertolongan Allah agar ibunya dapat sembuh dan beraktifitas normal kembali, sambil merawat ibunya yang sulit melakukan segala sesuatu.

Teman, pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah ini adalah jagalah kedua orang tuamu selagi masih ada dan sehat. Jangan sia-siakan kesehatan dan kasih sayangnya, banyak-banyaklah berbakti kepadanya. Karena jika tidak, kita akan sangat menyesal. Semoga kita tidak termasuk dalam orang-orang yang merugi, aamiin

Image

Tentang febry amin

seseorang yang selalu ingin kebermanfaatan
Pos ini dipublikasikan di Nasehat dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s