Tentang Kita

Assalamu’alaikum Wr.Wb… welcome readers! ^^ Jumpa lagi dengan saya yang sedang berupaya untuk mencari kebermanfaatan atas tulisan-tulisan saya, Insya Allah… 🙂

Kali ini yang akan kita bahas adalah pengalaman baik dan buruk kita selama menjalani kehidupan dan bagaimana mengambil pelajaran yang baik atas itu semua. Sering kita dengar ungkapan bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Sebagaimana sebuah ungkapan, bisa bernilai benar namun bisa juga salah (saya mau minta maaf dulu nih sama yang udah buat ungkapan itu :)). Tapi jangan cemas, mari kita telaah bersama-sama apakah ungkapan itu benar atau tidak dan apa langkah selanjutnya yang harus kita perbuat. Jadi jangan kemana-mana ya, akan kita lanjutkan setelah pesan-pesan berikut 😀

Kembali bersama saya di blog kesayangan anda! (perasaan pesan-pesannya gak ada deh u_u). Ok kita kembali ke pembahasan awal, yakni apa saja yang telah kita alami dalam hidup ini semenjak masih balita sampai tua renta seperti sekarang ini (Alhamdulillah saya masih muda :)). Dulu saat kita sudah mulai dapat berjalan, kemanakah arah kita berjalan? Pernahkah kita memperhatikan itu? Atau mungkin bagi reader yang udah punya anak, coba deh perhatikan kemana arah anak kita berjalan, mulai dari ia pertama kali mampu berjalan sendiri sampai sekarang? Yup! tepat sekali! ke tempat di mana dia sering menjumpainya sebelum dia mampu berjalan sendiri. Dengan kata lain, dia akan menuju ke tempat yang sama dengan tempat orang tuanya mengajaknya bermain dulu. Jadi kalau begitu, lebih tepat kalau saya bilang arah berjalan kita sebagian besar ditentukan oleh contoh yang diberikan orang tua kita bukan?

Mari kita telaah contoh lain. Saat semua orang di dunia ini baru bisa bicara, bahasa apa yang digunakannya? Saya pastikan bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sama dengan bahasa yang digunakan orang tuanya saat bermain dengannya, atau bahasa orang yang dekat dengannya. Kalau begitu, dugaan sementaranya menjadi “contoh hidup (dalam hal ini maksudnya pengalaman) adalah guru yang paling berpengaruh (belum tentu yang terbaik loh)”. Nah kalau begitu guru yang terbaik siapa dong? Hemmm,,, kasi tau nggak ya? hehe..

Sebenarnya ini hanya masalah perubahan lingkup bahasa saja. Kalau dulu yang namanya guru adalah semua orang yang mengajari kebaikan kepada orang lain, tidak peduli dia sarjana pendidikan dan mengajar di sekolah atau tidak, yang jelas dia sosok yang menebar kebaikan kepada orang lain dengan membuat orang yang belum tahu menjadi lebih tahu. Sedangkan sekarang guru itu orang yang mengajar di sekolah, mulai TK sampai SMA. Orang yang mengajar di perguruan tinggi pun kerap lebih memilih dipanggil dosen daripada guru. Sayangnya zaman sekarang tidak semua orang yang “berprofesi” guru mengajarkan hal-hal yang baik. Jadi kalau sampai sekarang masih ada ungkapan “pengalaman adalah guru yang terbaik” sepertinya kurang bijaksana deh (sok bijaksana nih saya :D). Seperti yang telah saya ungkapkan sebelumnya, contoh (pengalaman) adalah guru yang paling berpengaruh, belum tentu yang terbaik, karena yang memegang peran selanjutnya bukan lagi pengalaman, melainkan cara menanggapi dan memperlakukan pengalaman itu sendiri. Baik ataupun buruk contoh yang diterima, semuanya akan menjadi “guru” yang baik saat kita menyikapinya dengan benar dan baik pula.

Jadi apa yang kita dapat dari tulisan ini? Bismillahirrahmanirrahiim..

Tidak ada kata sulit untuk berbuat kebaikan, karena sebenarnya kita semua tahu apakah perbuatan itu baik atau tidak (bagi yang belum banyak tahu, cepet cari tahu ya :)). Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana caranya agar kita dapat membagi kebaikan itu kepada orang lain? Ya! Anda benar! Jadilah bagian dari pengalaman baik yang akan diterimanya dan bantulah menyikapi pengalaman itu dengan baik pula. Apabila anda memiliki hubungan dekat dengannya (misal antara orang tua dan anak), maka anda bisa membagi pengetahuan anda tentang hal yang baik dengannya dan memberinya “contoh” bagaimana cara menyikapi suatu hal agar memiliki kebermanfaatan di belakang hari (yang biasa kita sebut hikmah). Dengan begitu kita tidak hanya bisa menuntut orang lain bersikap baik kepada kita, namun kita juga bisa membantunya agar memiliki lingkungan yang baik pula. Itulah yang disebut “kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri”. Semoga setelah membaca tulisan ini, pola pikir kita akan mendidik orang lain berubah menjadi mendidik diri sendiri untuk orang lain…

Tentang febry amin

seseorang yang selalu ingin kebermanfaatan
Pos ini dipublikasikan di Nasehat dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Tentang Kita

  1. amiy husni berkata:

    kata-katanya itu harus lebih menarik dan mengajak pembaca untuk terus membaca hingga akhir,,kasarnya tulisan anda ini membosankan,, beri ungkapan-ungkapan lucu atau lainnya yang membuat pemabaca betah membacanya hingga akhir,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s